Laman

Jumat, 11 Oktober 2013

BEASISWA DATA PRINT

BEASISWA DATA PRINT

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun ketiga. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 dan 2012, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.
berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini
Di tahun 2013 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.
Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada website beasiswa DataPrint (www.beasiswadataprint.com)  dan website DataPrint (www.dataprint.co.id)

Pendaftaran periode 1 : 1 Februari – 30 Juni 2013
Pengumuman                : 10 Juli 2013

Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2013
Pengumuman                : 13 Januari 2014

Buruan isi formulirnya :)
Sumber : www.beasiswadataprint.com  dan www.dataprint.co.id
Data Print, Sahabat Printer Anda :)



Jumat, 26 April 2013

My Kaskus

Kunjungi,
http://www.kaskus.co.id/profile/viewallclassified/5415020
http://www.kaskus.co.id/profile/5415020    yaah :)

Jumat, 08 Februari 2013


Apa bedanya kau dengan wanita-wanita obralan yang lain.
Apa bedanya kau dengan wanita penghumbar aurat
Apa bedanya kau dengan wanita yang berzina,
Jika kau nggak menutup aurat dengan benar,
Jika kau tetap memperlihatkan apa yang telah tertutupi,
Jika kau tetap membiarkan mata ini dimanjakan dengan hal-hal yang seharusnya tertundukkan,
Jika bibir ini diam disaat harus bersua, atau bibir ini berkicau di saat harus terdiam.

Berbicaralah seperlunya saja.
Berucaplah di saat semua membutuhkan pendapatmu, dan lebih baik diam, dari pada kau membuka auratmu (bersua)

Sabtu, 26 Januari 2013

“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso.”

― novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah". Tere Liye

Sabtu, 12 Januari 2013

Hai Calon Pemimpin Bangsa

Sudah siapkah engkau dengan rencanamu masa depan
Sudahkah kau catat apa saja yang akan engkau butuhkan
Sudah bereskan segala sesuatunya
Sudah mantapkah diri anda
Sudah YAKIN kah akan langkah yang akan engkau ambil
Sudah percayakah akan kemampuan diri anda sendiri
Apa saja yang sudah engkau siapkan ?
Tenaga, materi, doa semua ikhtiar telah anda kerahkan ?
Berarti yang terakhir adalah IKHLAS
Menyerahkan segala sesuatu kepada yang memiliki keputusan
Ikhlas bukan berarti pasrah
Ikhlas bukan berarti  ngotot
Tapi Ikhlas itu yakin dan percaya akan hasil yang akan anda dapat setelah Anda BENAR-BENAR BERUSAHA

"OPTIMIS , YAKIN BISA "


Itulah kata-kata yang sering terlontarkan oleh Guru Olahraga kami.
Itu tak hanya omong kosong belaka kawan.
Kata-kata itu bak air bah yang bisa menghujam jiwa saat hati kita ragu, bimbang dan tak percaya pada kemampuan diri sendiri.
Kata-kata itu menyadarkan kita untuk segera terbangun, bangkit dan segera bertindak.
Karna kata-kata yang kita ucapkan teguh dan yakin dalam hati itu akan mendorong kita untuk terus berusaha meraih apa yang kita impikan.


Mungkin kau merasa sangat berat jika harus berlari menempuh 5 kali putar stadion dalam waktu 15menit, dan mungkin  kau lebih tak kuat dan bahkan tak kuasa untuk membayangkannya, jika kau disuruh "6 kali putar stadion dalam waktu 13menit"
Apa yang kau pikir pertama kali ?
"Apa ? Mana bisa, ndak mungkin bisa, ndak kuat aku"
Anda gagal, dan akhirnya remidi ?

Itu bukan salah guru anda yang terlalu memforsir anda. Akan tetapi itu adalah salah anda yang tadi sudah mengeluarkan kata-kata itu. Kata-kata tak bermanfaat, kata-kata mubazir.
Jika tadi anda berkata,
"Wow, 6 kali putar, hmm pasti bisalah"
Dan saya yakin pasti anda akan lolos dan terhindar dari yang namanya remidi.
Apasih bangganya punya slogan "Tiada hari tanpa remidi"
Mbog diganti, "Tiada hari tanpa berprestasi"

Itulah kuncinya teman, semua berawal dari diri kita.
Jika kita yakin, dan mau menyugesti positif pada diri kita sendiri pasti deh kemudahan akan datang dengan sendirinya.
Jangan terlalu bergantung kepada orang lain deh, karena yang bisa memberi semangat pada diri kita, ya hanya kita sendiri (:

Kamis, 21 Juni 2012

Abah, Mengapa Kita Berbeda ?


“Selamat pagi Abah” , sapa gadis kecil bermata sipit kecoklatan dari dalam rumah sederhana di ujung kompleks.
“Selamat pagi putriku tersayang”, balas si Abah sambih menyeruput teh manisnya.
“Abah Abah, nanti Fafa di sekolah ada pesta kebun lho, kira-kira Umi membawakan bekal buat aku apa ya Bah ?”, pikir Fafa sambil mengernyitkan dahi. “emm, mungkin Umi menyiapkan makanan spesial buat Fafa ya Bah, mungkin spag, spag apa Bah ? itu lho yang kaya punyanya temen Fafa, pokoknya yang kaya mie, tapi rasanya ndak kaya mie yang biasa Fafa, Abah dan Umi makan. Pokoknya yang enak itu deh Bah”, tukas Fafa sambil nyengir-nyengir.
“Sudah-sudah, sekarang Fafa mandi sana, nanti kesiangan lho”, potong Abah.
Tanpa babibu, Fafa langsung masuk ke kamar mengambil perlengkapan mandinya. Abahpun menyusul masuk, tetapi menuju dapur.
“Umi, hari ini Fafa ada pesta kebun lho, ndak lupakan Mi ?”, tanya Abah selepas sampai di pintu dapur.
“Iya Bah, Umi tidak lupa. Kemarin Fafa juga sudah ngingetin Umi kok Bah. Katanya dia pengen dibawakan bekal kaya temannya, siapa namanya Umi lupa, yang rumahnya di ujung kompleks itu lho”, sambung Umi.
“Oo anaknya pak Burhan itu ya Mi ?”
“Iya itu Bah. Haduh mana mungkin ya Bah kita sanggup membawakan bekal seperti mereka. Kita saja hanya beginini keadaanya, lha mereka, apa-apa serba kecukupan”, celetuk Umi.
“Hus, Umi ni ngomong apa to. Sudah bersyukur kita masih bisa hidup layak gini Mi, kita juga berkecukupan. Selama ini kan kita juga belum pernah kekurangankan Mi”, bantah Abah.
“Iya sih Bah, tapi kapan kita punya rumah mewah seperti mereka, perabotan bagus, kendaraan bagus, pengen apa-apa bisa langsung keturutan Bah”.
“Ah, sudahlah, Abah mau siap-siap berangkat”, tukas Abah sambil berjalan keluar dapur.
Keadaanya pagi ini seperti biasanya, Umi yang selalu sibuk dengan urusan dapurnya, Abah dan Fafa yang sibuk siap-siap pergi ke sekolah.
“Fafa, cepetan nak, nanti keburu terlambat. Abah juga harus kerja pagi ni”, teriak Abah dari atas motor bebek bututnya.
“Iya Bah, tunggu sebentar”, sahut Fafa yang suaranya melengking dari dapur.
“haduh, kamu itu ya, kan kemarin malam udah Umi sudah berpesan buat menyiapkan perlengkapan sekolah, nah sekarang repotkan”, gerutu Umi.
“Maaf Mi, maaf. Umi bekal Fafa hari ini apa mi, kaya punya Vira ndak ya ?”, sambung Fafa dengan wajah sok mikir.
“Sudah-sudah, buruan, Abah sudah nungguin tuh”, sambung Umi mengalihkan pembicaraan.
Umi dan Fafapun segera keluar dari dapur dan segera Fafa berpamitan serta tak lupa mencium pipi putri semata wayangnya.
Abahpun mulai menggenjot motor bebek warna ijo lusuh, hasil jerih payahnya selama ini. Yah, walau hanya motor second, tapi Alhamdulillah masih bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Walau memang terkadang honor dari gaji Abah tidak mencukupi kalau harus digunakan untuk membayar tagihan listrik, air PAM, uang keamanan, ataupun biaya sekolah putri mereka. Memang biaya sekolah gratis, tapi bayar buku, bayar seragam, uang saku dan masih banyak lagi. Gaji Abah sudah habis untuk itu semua. Tak ada sisa untuk sekadar liburan keluarga, melepas penat setelah sepekan sibuk dengan berjibun aktivitas. Untuk mencukupi kehidupan keluarga, kadang si Umi juga cari-cari pekerjaan. Walau hanya serabutan, yang penting ada tambahan, minimal untuk ditabung. Mungkin kehidupan keluarga ini sangat jauh berbeda dengan masyarakat di sekitarnya yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Walaupun demikian Abah dan Umi tak kecil hati. Tak ada alasan yang membuat mereka harus malu dengan keadaan keluarga mereka.

Disepanjang jalan Fafa ngomel-ngomel melulu. Abahpun tak menggubris apa yang dimaksud putrinya. Mungkin karna konsentrasinya dalam menembus kabut pekat yang menyelimuti pagi ini, setelah semalam suntuk hujan mengguyur bumi pertiwi.
Akhirnya Abah berhasil menaklukan jalanan licin ini. Sesampainya di depan gerbang sekolah Fafa turun dari boncengaan motor Abahnya dengan wajah yang cemberut. Abah hanya memandangi putri manisnya yang begitu cantik dengan kerudung warna putihnya.

“Fafa kenapa ? Kan tadi Abah ngendarai motornya ndak pelan-pelan seperti biasanya”, tanya Abah mencairkan suasana.
“Abah, Umi bohong, katanya Fafa akan dibawakan bekal kaya punyanya Vira, tapi kenapa bekalnya kaya menu sarapan tadi”, keluh Fafa dengan mata yang mulai memerah. Abah hanya terdiam mendengar laporan putrinya. Kata-kata putrinya bak petir yang terbawa dari sisa-sisa hujan tadi malam. Abah bingung, Abah berusaha memcari kata-kata yang pas untuk menjelaskan kepada putri kecilnya.
“Abah, kenapa sih kita harus berbeda. Kenapa Allah tidak menciptakan kita sama semua. Aku sama kaya Vira, jadi makanan kita juga bisa sama, trus nanti aku berangkat dan pulang sekolah bersama Abah naik mobil bagus. Tapi kenapa berbeda Bah. Kita hanya naik motor, sedangkan teman-teman Fafa yang lain naik mobil dan ada juga yang naik motor yang lebih bagus dari motor kita. Makanan mereka juga enak-enak semua, beda kaya punya Fafa”, tambah Fafa, dan sekarang ia benar-benar sudah mengeluarkan air mata dari mata sipitnya yang berwarna kecoklatan.

Hati Abah rasanya lebih getir, tak beliau sangka, putri kecilnya bisa protes akan semua keadaan ini. Lidahnya begitu kaku dan beku. Terlalu sesak hingga Abah belum bisa untuk menanggapi tembakan kata-kata yang terlontar dari bibir manis gadis polos ini. 
“Putriku sayang, jangan bicara seperti itu. Allah itu sayang sama Fafa, Umi dan Abah. Kenapa ? karna Allah mempercayai kita, kalau kita bisa kuat dalam menjalani amanah hidup  ini”, Abah salah, salah karna telah menjelaskan kata-kata berat ini kepada putrinya. Mana mungkin gadis berumur 6 tahun ini bisa mengolah kata-kata seberat ini.

“Fafa sayang, coba kita pikir ulang. Fafa bilang, Fafa pengen punya bekal kaya teman-teman Fafa karna rasanya enak dan Fafa juga sering dikasih teman-teman. Teman-teman Fafa juga senang kalau Fafa berbagi kue Putu Ayu buatan Umi kepada teman-teman Fafa. Lha kalau makanan Fafa sama seperti punya teman-teman, nanti teman Fafa tidak bisa minta kue ke Fafa lagi dong dan Fafa juga tidak dibagi makanan dari teman-teman juga karna Fafa sudah punya makanan yang sama. Jadi intinya, perbedaan itu indah sayang, perbedaan bisa mendekatan persahabatan, persaudaraan dan bisa menumbuhkan rasa kasih sayang. Umi dan Fafa juga berbedakan ? Umi orangnya tegar sedangkan Fafa sedikit cengen, akan tetapi Umi sering menyemangati dan menghibur Fafa. Dengan perbedaan ini Umi akan lebih sayang kepada Fafa. Sayang berbeda itu indah, karna dengan perbedaan kita bisa saling berbagi antar orang yang kita sayang. Fafa sudah mengertikan, kenapa Tuhan menciptakan perbedaan ?”, jelas Abah dengan hati yang lega karna bisa menjawab pertanyaan putrinya dengan lebih simpel untuk bisa dicerna oleh anak seusia putrinya ini.
“Abah...”  saura Fafa sesak dan terhenti.
“Iya sayang ?”, sahut Abah.
“Maafin Fafa ya. Fafa janji tak akan bilang seperti itu lagi”, ucap Fafa sambil menyeka air mata di mata sipitnya.
“Iya sayang”, jawab Abah sambil memeluk putri semata wayangnya.
“Fafa cinta Abah karna Allah, Fafa cinta Umi karna Allah juga”, sahut Fafa dipelukan Abahnya.

Inilah yang membuat Umi begitu mencintai sosok Abah. Sosok suami dan ayah yang pasti menjadi dambaan semua wanita sholehah. Abah tak pernah absen dalam menyampaikan pesan-pesan kepada Umi.  Abah selalu berpesan kepada Umi untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarganya selama ini. Setiap napas, nikmat dan sempat adalah campur aduk dari Yang Maha Kuasa.